Breaking News

KHILAFAH DALAM PANDANGAN ULAMA SALAF DAN KHOLAF

Oleh : Choirul Anam
Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa khilafah itu hanyalah sebuah khayalan. Tidak ada ulama salaf yang membahas khilafah, apalagi mewajibkan khilafah. Benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada ulama yang membahas dan mewajibkan khilafah? Tulisan ini akan membahas secara ringkas. Untuk pembahasan yang komprehensif, kita bisa merujuk pada kitab Al-Imaamah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jama‘ah karya Ad Dumaji. Di dalam kitab 718 halaman itu, dibahas secara rinci berbagai pandangan para ulama Ahlus Sunnah tentang Khilafah dan berbagai hal seputar Khilafah. Di sini akan dibahas tentang ISTILAH, ARTI dan HUKUM Khilafah menurut para ulama. Sementara tentang dalilnya dari al quran, as sunnah, dan ijma’ shahabat akan dibahas di lain kesempatan, insya Allah.
Secara ISTILAH, para ulama menyebutkan bahwa khilafah, imamah atau imarotul mukminin itu artinya sama (mutaradif). Sementara pemimpinnya dinamakan khalifah, imam, amirul mukminin, atau sultan. Berikut beberapa penjelasan ulama tentang istilah khilafah.
Imam Ar-Razi dalam kitab Mukhtâr ash-Shihaha halaman 186, menjelaskan:

الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين
“Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim”. 
Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah halaman 190:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام
“Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam”. 
Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thâlibîn juz X, halaman 49, menegaskan:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين
“Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin”.
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, juz VIII halaman 418 menyatakan hal serupa:

الخلافة (أو الإمامة أو إمارة المؤمنين) أو أي نظام شوري يجمع بين مصالح الدنيا والآخرة كلها ذات مدلول واحد
“Khilafah (atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistem berdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat, semuanya mempunyai pengertian yang sama”.
Syeikh Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah, halaman 92 juga mengatakan:

يلاحظ أن الخلافة والإمامة الكبرى وإمارة المؤمنين ألفاظ مترادفة بمعنى واحد
“Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama”.
Syeikh Muhammad Abu Zahrah, dalam Tarikh Al-madzahib Al-islamiyyah, juz I, halaman 21 menegaskan:

( المذاهب السياسية كلها تدور حول الخلافة وهي الإمامة الكبرى ، وسميت خلافة لأن الذي يتولاها ويكون الحاكم الأعظم للمسلمين يخلف النبي في إدارة شؤونهم ، وتسمى إمامة : لأن الخليفة كان يسمى إمامًا ، ولأن طاعته واجبة ، ولأن الناس كانوا يسيرون وراءه كما يصلون وراء من يؤمهم الصلاة )
“Madzhab-madzahab politik secara keseluruhan selalu beredar di sekitar pembahasan khilafah. Khilafah adalah imamah al-kubra (imamah agung). Disebut khilafah karena pihak yang memegang jabatan khilafah dan yang menjadi penguasa agung atas kaum Muslim menggantikan Nabi SAW dalam mengatur urusan mereka. Disebut imamah karena (khalifah disebut Imam) karena taat kepadanya adalah wajib, dan karena manusia berjalan di belakang imam tersebut layaknya mereka shalat di belakang orang yang mengimami mereka dalam shalat”.
Berikut ini akan disajikan MAKNA khilafah atau imamah, menurut para ulama:
Imam Al-Haramain dalam kitab Ghiyatsul Umam fil Tiyatsi Adz-dzulam halaman 15 menjelaskan:

( الإمامة رياسة تامة ، وزعامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا ) أ . هـ
“Imamah itu adalah kepemimpinan yang menyeluruh, dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia”. 
Al ‘Allamah Imam Ibnu Khaldun, dalam kitab Al Muqaddimah, halaman 190 berkata:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام أ . هـ
“Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam”. 
Syeikh Mahmud A Majid dalam kitab Qawaid Nidzam Al-hukm fii Al-Islam, halaman 225 menjelaskan:

رئاسة عامة للمسلمين جميعا فى الدنيا لإقامة احكام الشرعى الإسلامي, وحمل الدعوة الإسلامية الى العالم
“Kepemimpinan yang sifatnya bagi kaum Muslim secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum syara’ yang Islami serta mengemban dakwah Islam ke suluruh dunia”.
Berikut ini adalah HUKUM keberadaan khilafah menurut para ulama:
Imam Abul Qasim An Naisaburi Asy Syafi’i, dalam kitab Tafsir An Naisaburi, juz 5 halaman 465, berkata:

أجمعت الأمة على أن المخاطب بقوله { فاجلدوا } هو الإمام حتى احتجوا به على وجوب نصب الإمام فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.
“Umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab pada firmanNya: (“maka jilidlah”) adalah imam; sehingga mereka berhujjah dengan ayat ini atas wajibnya mengangkat seorang imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula”. 
Al-’Allamah Asy Syeikh Abdul Hamid Asy Syarwani, DALAM KITAB Hawasyi Asy Syarwani, juz IX, halalamn 74, menyatakan:

قوله: (هي فرض كفاية) إذ لا بد للامة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينصف المظلوم من الظالم ويستوفي الحقوق ويضعها موضعها…
“Perkataannya: (mewujudkan imamah itu adalah fardhu kifayah) karena adalah merupakan keharusan bagi umat adanya imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, serta memberikan hak orang yang didzalimi dari orang yang dzalim serta menunaikan hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya…”
Imam ‘Alauddin Al Kasani Al Hanafi, dalam kitab Bada’iush Shanai’ fii Tartibis Syarai’, juz 14, halaman 406 berkata:
“.. وَلِأَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَرْضٌ ، بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَقِّ ، وَلَا عِبْرَةَ – بِخِلَافِ بَعْضِ الْقَدَرِيَّةِ – ؛ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَلِمِسَاسِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ ؛ لِتَقَيُّدِ الْأَحْكَامِ ، وَإِنْصَافِ الْمَظْلُومِ مِنْ الظَّالِمِ ، وَقَطْعِ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي هِيَ مَادَّةُ الْفَسَادِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَصَالِحِ الَّتِي لَا تَقُومُ إلَّا بِإِمَامٍ ، …
“…dan karena sesungguhnya mengangkat imam agung itu adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini. Perbedaan dari sebagian kelompok Qadariyyah sama sekali tidak perlu diperhatikan, karena hal ini merupakan ijma’ shahabat ra, serta kebutuhan terhadap imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya imam…” 
Imam Al Hafidz Abul Fida’ Ismail ibn Katsir dalam kitab Tafsirul Qur’anil Adzim, juz 1 hal 221, ketika menjelaskan firman Allah surah Al Baqarah ayat 30 beliau berkata:

…وقد استدل القرطبي وغيره بهذه الآية على وجوب نصب الخليفة ليفصل بين الناس فيما يختلفون فيه، ويقطع تنازعهم، وينتصر لمظلومهم من ظالمهم، ويقيم الحدود، ويزجر عن تعاطي الفواحش، إلى غير ذلك من الأمور المهمة التي لا يمكن إقامتها إلا بالإمام، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.
“…dan sungguh Al Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong pihak yang didzalimi dari yang mendzalimi, menegakkan had-had, dan mengenyahkan kerusakan, serta urusan-urusan penting lain yang tidak mungkin ditegakkan tersebut kecuali dengan adanya seorang imam, dan ما لايتم الواجب الا به فهو واجب ( apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula)”. 
Imam Al Qurthubi dalam kitab Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, juz 1, halaman 264-265, ketika menafsirkan Surah Al Baqarah 30, menjelaskan:

… هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الامة ولا بين الائمة إلا ما روي عن الاصم … ثم قال القرطبي: فلو كان فرض الامامة غير واجب لا في قريش ولا في غيرهم لما ساغت هذه المناظرة والمحاورة عليها، ولقال قائل: إنها ليست بواجبة لا في قريش ولا في غيرهم، فما لتنازعكم وجه ولا فائدة في أمر ليس بواجب …
وقال, اي القرطبي, وإذا كان كذلك ثبت أنها واجبة من جهة الشرع لا من جهة العقل، وهذا واضح.
“…ayat ini dalil paling asal dalam persoalan pengangkatan imam dan khalifah yang wajib didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, hukum-hukum khalifah. Tidak ada perbadaan tentang wajibnya hal tersebut diantara umat, tidak pula diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham …Selanjutnya beliau berkata: “…Maka kalau seandainya keharusan adanya imam itu tidak wajib baik untuk golongan Quraisy maupun untuk yang lain lalu mengapa terjadi diskusi dan perdebatan tentang Imamah. Maka sungguh orang akan berkata: bahwa sesungguhnya imamah itu bukanlah suatu yang diwajibkan baik untuk golongan Quraisy maupun yang lain, lalu untuk apa kalian semua berselisih untuk suatu hal yang tidak ada faedahnya atas suatu hal yang tidak wajib”. Kemudian beliau menegaskan: “Dengan demikian maka (telah) menjadi ketetapan bahwa imamah itu wajib berdasarkan syara’ bukan akal. Dan masalah ini jelas sekali”. 
Imam Umar bin Ali bin Adil Al Hanbali Ad Dimasyqi, dalam kitab Tafsirul Lubab fii ‘Ulumil Kitab, juz 1, halaman 204, ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala surah Al Baqarah ayat 30 berkata:

…وقال « ابن الخطيب » : الخليفة : اسم يصلح للواحد والجمع كما يصلح للذكر والأنثى … ثم قال: هذه الآية دليلٌ على وجوب نصب إمام وخليفة يسمع له ويُطَاع ، لتجتمع به الكلمة ، وتنفذ به أحكام الخليفة ، ولا خلاف في وجوب ذلك بَيْنَ الأئمة إلاّ ما روي عن الأصَمّ ، وأتباعه …
“… dan Ibn Al Khatib berkata, “Khalifah itu isim yang cocok baik untuk tunggal maupun plural sebagaimana cocoknya untuk laki-laki dan wanita. Kemudian beliau berkata, “ ….Ayat ini adalah dalil wajibnya mengangkat Imam dan khalifah yang didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat, serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang khalifah. Tidak ada perbedaan tentang wajibnya hal tersebut diantara para imam kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham dan orang yang mengikuti dia…” 
Imam Al-hafidz Abu Muhammad Ali bin Hazm Al Andalusi Adz Dzahiri mendokumentasikan ijma’ ulama’ mengenai kefardluan menegakkan imamah dalam kitab Maratibul Ijma’ , juz 1, halaman 124:

… واتفقوا أن الامامة فرض وانه لا بد من امام حاشا النجدات وأراهم قد حادوا الاجماع وقد تقدمهم واتفقوا انه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا امامان لا متفقان ولا مفترقان ولا في مكانين ولا في مكان واحد …
“…Meraka (para ulama’) sepakat bahwa imamah itu fardhu dan adanya imam itu merupakan suatu keharusan, kecuali An Najdat. Pendapat mereka sungguh telah menyalahi ijma’ dan telah lewat pembahasan (tentang) mereka. Mereka (para ulama’) sepakat bahwa tidak boleh pada satu waktu di seluruh dunia adanya dua imam bagi kaum Muslimin baik mereka sepakat atau tidak, baik mereka berada di satu tempat atau di dua tempat…” 
*****

Penjelasan para ulama di atas, tentu saja ini hanya sebagian kecil (cuplikan) dalam kitab-kitab mereka. Jika semua ditulis di sini akan memakan beratus-ratus halaman. Dengan penjelasan ini, masihkan kita dengan sombong mengatakan bahwa khilafah atau imamah adalah HIZBUT TAHRIR saja, dan mengatakan bahwa para ulama tidak menganggap penting masalah Khilafah ini. Janganlah seperti orang yang merasa kegelapan di tengah teriknya matahari. 
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar