Breaking News

RAJIN TERIAK HARGA MATI, MENGAPA BUBAR YANG DIPREDIKSI?

Published on Mar 23, 2018


Mungkin pada mulanya singosari metengkreng teriak bahwa singosari harga mati. Tak ketinggalan majapahit percaya diri bahwa kerajaannya akan abadi. Mataram harga mati.  Demak bintoro harga mati. sriwijaya harga mati, bahkan mungkin utsmani harga mati.

Tapi pada akhirnya mereka semua mati, Artefak kebudayaan hanya sisakan satu pelajaran bahwa peradaban manusia tiada abadi.

Surut itu terbaca Tatkala keadilan terbenam dalam kerakusan dan ambisi berbut kursi. Kemunduran itu terlihat Tatkala naluri berkuasa dibiarkan liar dan berevolusi menjadi nafsu birahi
Saat pemikiran merosot menimbulkan krisis kesejagatan, Maka bertempurlah, berperanglah, saling tuduh dan lontarkan fitnah lah.
Hingga puas lalu hati mampat dan keras diisi rasa curiga untuk menumbangkan lawan yang padahal saudara.

Sejarah telah memberikan kita pelajaran besar
Soal fanatisme domestik yang disakralkan dengan alibi kedaulatan
Dari situlah Salah benar benjadi bias. Baik buruk hanya soal konsensus. Harga mati untuk negara, dan kemudian mati harga saat mereka berkuasa.

Padahal kita lupa soal keabadian tentang hakikat hidup selalu dibaca
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam,

saat allah yag kita sembah berkata inil hukmu illa lillah, bukan harga mati yang kita jawab, melaikan dalih penafsiran yang kita ajukan.
Saat allah yang kita sembah menyeru dengan keras afahukmul jahiliyyati yabghun, , bukan harga mati yang kita jawab, melaikan hermeneutika yang dijadikan alasan.

Kalau ciptaannya kita patok dengan harga mati, lalu seruan sang pencipta kita hargai apa?

Tidak ada komentar