Breaking News

DAHSYATNYA PEMIKIRAN

DAHSYATNYA PEMIKIRAN

Pemikiran itu abstrak. Pemikiran itu tak kelihatan, tak tampak oleh mata dan tak terindra oleh panca indra, sehingga bagi orang yang tak memahami, pemikiran itu tak ada artinya apa-apa. Maka tak mengherankan, jika banyak orang yang menganggap bahwa pemikiran itu tak ada gunanya.

Namun demikian, ketika pemikiran bertemu dengan fakta akan membentuk pemahaman. Pemahaman atas dasar pemikiran inilah yang akan menentukan PRILAKU, SIKAP dan KEPUTUSAN yang diambil seseorang. Padahal, apapun yang terjadi pada diri kita, pada masyarakat kita,  pada negara kita, dan pada dunia kita, tergantung dari PRILAKU, SIKAP dan KEPUTUSAN yang kita ambil saat ini.

Sekedar contoh, terdapat banyak orang yang menolak syariah dengan berbagai cara, namun ada juga banyak yang mempertaruhkan nyawanya demi tegaknya syariah. Apa yang berbeda dari kedua orang ini? Yang berbeda adalah PEMAHAMANNYA tentang syariah dan kehidupan. Orang yang memahami bahwa syariah itu mengerikan, kaku, tak toleran, kuno, dan hal-hal negatif lainnya, maka orang tersebut akan mati-matian menolak syariah Islam. Sebaliknya, orang yang memahami bahwa syariah adalah perintah Allah swt yang pasti baik, membawa keadilan dan kesejahteraan, sementara secara empiris dan historis memang demikian, maka orang tersebut akan mati-matian untuk memperjuangkan syariah.

Ada orang yang mati-matian membela dan memperjuangkan demokrasi, namun di sisi lain ada orang yang habis-habisan mengkritik dan ingin mengganti demokrasi. Apa yang berbeda dari kedua jenis orang ini? Yang berbeda adalah PEMAHAMANNYA TENTANG DEMOKRASI. Orang yang memahami bahwa demokrasi adalah sumber kebaikan, kesejahteraan, maka orang tersebut akan berjuang mati-matian untuk demokrasi. Sementara orang yang memahami bahwa demokrasi adalah sitem kufur yang memberi kedaulatan bukan kepada Allah swt dan secara empiris membawa pada kekacauan, keterjajahan terhadap barat, hilangnya sumber daya alam, lengsernya keadilan, lenyapnya kesejahteraan rakyat, maka orang ini akan mati-matian menolak dan ingin mengganti demokrasi.

Umar ra. sebelum Islam rela mati untuk menghalangi Islam, sementara setelah waktu tertentu, beliau rela mati untuk membela Islam. Apa yang berubah dari beliau? Secara fisik tidak ada yang berubah dari beliau. Tangan, kaki, kepala, perut, dada dan hal-hal fisik lainnya tidak ada yang berubah sama sekali. Tetapi, yang berubah dari beliau adalah PEMIKIRAN dan PEMAHAMANNYA tentang kehidupan. Itulah yang mengubah perilaku, sikap dan keputusan beliau tentang kehidupan.

Pemikiran dan pemahaman akan mengubah seseorang dari kafir "ekstrim", menjadi Islam "ektrim", tapi bukan ekstrimis.

Bagi orang yang tidak memahami arti pemikiran, maka membicarakan tentang “pemikiran dan semua konsekuensinya” itu buang-buang waktu, tak ada gunanya, dan hanya OMDO saja. Ini sangat wajar, sebab orang ini belum paham tentang arti pemikiran dan konsekuensinya, atau tingkat pemahamannya memang masih berada level itu. Bagi orang dengan level itu, ia hanya akan menganggap penting dan berguna hal-hal yang dapat diindra secara langsung. Dalam dunia sains dan teknologi, orang seperti itu memang levelnya masih teknisi, belum sebagai ilmuan atau peneliti.

Bagi orang dengan level pemikiran yang belum mendalam, memang hanya akan menganggap penting hal-hal yang bisa dinikmati SAAT INI juga. Mereka tidak mau sesuatu yang hasilnya masih nanti atau jangka panjang.

Rasulullah saw sendiri dalam dakwah beliau, mengajari dan mengajak para sahabatnya dan masyarakat untuk berpikir tentang hakikat kehidupan (yang kemudian dinamakan dengan AKIDAH). Tetapi pada saat itu banyak yang mengejek dan menghina Rasulullah saw, karena dianggap menawarkan seuatu yang tak real dan tak ada gunanya. Bagi mereka, percaya surga dan neraka, serta beramal dengan dasar surga dan neraka sungguh tak masuk akal, serta hanya buang-buang energi saja. Lalu mereka menawarkan kepada Rasulullah saw sesuatu yang lebih real bagi mereka, yaitu tentang prediksi harga-harga barang perdagangan dan mata air yang melimpah. Menurut mereka jika Rasulullah saw meminta kepada Allah swt tentang harga-harga barang perdagangan dan mata air yang melimpah, maka manfaatnya sungguh sangat besar bagi masyarakat. Mereka akan menjadi pedagang-pedagang sukses dan tidak lagi kekurangan air. Menurut mereka itu jauh lebih bermanfaat, dari pada hanya OMDO tentang surga dan neraka yang tak jelas ujung pangkalnya. Itulah kualitas masyarakat pada masa awal Islam, termasuk para tokohnya. Namun Rasulullah saw mengabaikan permintaan mereka dan tetap melakukan tugasnya sesuai yang diperintahkan Allah swt kepadanya.

Hal itu diabadikan Allah di dalam al-qur’an: Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu bawa atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS. Al-Isra 90-93)

Para sahabat beliau yang beriman tetap beliau bina dengan model pembinaan yang diajarkan Allah swt kepadanya. Dengan modal pemikiran itu para sahabat menjadi pribadi yang luar biasa, karena terbiasa berpikir yang hasilnya jangka panjang dan tidak kelihatan, yaitu RIDLO DAN JANNAH. Mereka bukanlah orang yang tergesa-gesa, bukan model orang yang CASH & CARRY, bukan orang yang hanya mau melakukan jika HASILNYA DI DEPAN MATA. Di tangan merekalah dunia berubah, dari jahiliyah menjadi Islam yang menebarkan rahmat ke penjuru alam. Di tangan merekalah PERADABAN Islam tegak di muka bumi.

Terakhir, apakah pemikiran ada artinya bagi kita? Jawaban kita menunjukkan KUALITAS DIRI kita.

Wallahu a’lam

Tidak ada komentar