Breaking News

Ust.Choirul Anam : MENGAPA MASYARAKAT BERISIK

MENGAPA MASYARAKAT BERISIK?


Pertanyaan ini memang tidak bisa dijawab dengan satu jawaban, seperti kesimpulan petinggi parpol "berkulit hijau" (mohon jangan tanya warna bagian dalamnya, sehingga ada tokoh yang mengasosiakan dengan buah tertentu) karena penyebabnya memang beragam. Tetapi, jika mau diringkas, jawabnya adalah: "karena pemimpin tidak bisa mengayomi semua lapisan masyarakat".

Pemimpin dan seluruh organ yang dimilikinya memang harus kerja, tetapi tidak sembarang kerja. Dan kerja terpenting dari semua pekerjaan pemimpin, bukanlah membangun jalan tol, membangun bandara, membangun kereta cepat, dan semua proyek fisik lainnya. Membangun fisik itu pekerjaan yang remeh-temeh. Pekerjaan terpenting seorang pemimpin adalah mengayomi dan melayani seluruh rakyat, sehingga rakyat merasa tenang dan aman serta diperlakukan dengan adil, apa pun status sosialnya, apa pun tingkat partisipasinya dalam pembangunan, bahkan apapun preferensi politiknya.

Pemimpin itu tugasnya adalah mengayomi dan melayani masyarakat yang memang heterogen atau plural.

Ada rakyat yang berisik karena perutnya lapar, seperti kata pemimpin parpol yang disebut di atas. Untuk rakyat tipe ini, solusinya memang dengan mengisi perutnya, atau menurut tokoh parpol tersebut diistilahkan "kue". Meski rakyat yang tipe ini, diberi dengan cara tak beradab yaitu dengan melemparkan "kue" (atau istilah kerennya bantuan lempar tunai, BLT) mungkin sudah tidak berisik lagi, tetapi pemimpin mestinya harus menjaga kehormatan rakyat dengan memberikan makan secara lebih beradab.

Namun harus diingat, tidak semua rakyat yang lapar itu berisik. Banyak yang lapar tetapi memiliki kehormatan, sehingga rasa laparnya itu ditahan sekuat tenaga. Pemimpin harus mampu membaca wajah-wajah dan gerik-gerik rakyatnya, meskipun mereka tidak berisik. Masyarakat seperti ini, jangan diberi dengan cara dilemparkan, diberi dengan hormat di depan umum saja tidak mau. Maka pemimpin harus mencari cara terhormat untuk melayani rakyat lapar yang tak mau berisik. Dan saya yakin tipe masyarakat terhormat ini jauh lebih banyak daripada yang suka berisik saat lapar.

Yang kedua, ada masyarakat yang berisik bukan karena lapar, tetapi karena hatinya di lukai dan persaannya dipermainkan. Kalau urusan perut, mereka adalah orang-orang dengan perut kenyang, tetapi hati dan persaannya merasa dilukai. Mereka merasa diperlakukan tidak adil. Misalnya, saat mereka melaporkan penista tidak ditanggapi, tetapi pihaklain juga melaporkan penista  langsung ditanggapi secepat kilat. Orang-orang seperti ini, meski perutnya kenyang, tetapi berisik karena menuntut keadilan yang harusnya ditegakkan oleh para pemimpin.

Yang ketiga, ada juga masyarakat yang berisik karena pemaham yang mendasar tentang kehidupan. Jika mereka memahami harusnya "begini", tetapi kenyataanya "begitu", maka mereka akan sangat berisik. Mereka tidak akan bisa didiamkan hanya dengan dikasih kue atau dikasih "hati". Mereka hanya akan diam saat pemahamannya tentang kehidupan terwujud. Bagi mereka, ketundukan hanya kepada Allah, sehingga pemimpin pun juga harus tunduk kepada Allah. Oleh karena itu, saat menurut mereka pemimpin dan aturan main tidak tunduk kepada Allah, mereka akan terus berisik. Mereka hanya akan berhenti berisik, saat kedaulatan sudah betul-betul di tangan Allah.

Jadi, orang berisik itu tidak seperti yang disampaikan ketua parpol tertentu, yaitu hanya karena urusan perut. Banyak orang berisik karena faktor lain yang lebih terhormat dan untuk hal yang lebih terhormat.

Walahu a'lam.

Tidak ada komentar