Breaking News

BUKAN PRESIDEN PILIHAN ULAMA, TETAPI ULAMA PILIHAN PRESIDEN

BUKAN PRESIDEN PILIHAN ULAMA, TETAPI ULAMA PILIHAN PRESIDEN
_______
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani



Hawa panas Pilpres sudah mulai terasa. Semua media masa tidak mau ketinggalan untuk selalu memantaunya. Telat sedikit saja mereka mendapatkan berita, maka mereka tidak akan mendapatkan momen-momen penting nan bersejarah dalam kancah perpolitikan Indonesia. Itu kata Mahfudz MD, ya.

Hiruk pikuk Pilpres terasa lebih panas lagi ketika simbol-simbol agama dipolitisasi, seperti halnya ulama. Bukan tidak boleh, tetapi saya mempertanyakan konsistensi para pendukung Jokowi saja, sebab merekalah yang paling lantang meneriakkan; "Jangan bawa-bawa agama ke politik, jangan manfaatkan agama untuk tujuan politik, orang-orang yang ahli agama (ulama) fokus saja di pengajian-pengajian, jangan di pemerintahan."

Faktanya, kubu mereka sendiri yang memanfaatkan agama sebagai komoditas politik. Ulama-ulama didekati, pesantren-pesantren disambangi dan masjid-masjid disinggahi. Itu artinya mereka inkonsistensi. Melarang orang lain makan jengkol, sendirinya malah makan jengkol. Emang dasar enak tuh jengkol.

Pada akhirnya, mereka mengklaim junjungannya sebagai presiden pilihan ulama. Apalagi setelah diketahui Jokowi memilih Kiai Ma'ruf Amin sebagai wakilnya. Media-media yang menjadi corong mereka terus menggorengnya menjadi hidangan yang beraneka rasa.

Di antara rasa yang disuguhkan adalah pemutar balikan fakta. Kemarin saya membaca meme dalam sebuah berita yang berbunyi; "Ketahuan kan akhirnya, siapa yang peduli dengan ulama." Maksud dari tulisan itu adalah menyindir kubu Prabowo yang lebih memilih Sandiaga Uno yang pengusaha sebagai wakilnya, daripada ulama.

Jadilah menu utama mereka yang terus disuarakan adalah; 'Jokowi adalah Presiden pilihan Ulama'. Saya sering ketawa sendiri setiap kali mendengar kalimat itu, karena hal itu kontras dengan realitas. Saking tidak tahan sama nikmatnya jengkol, hingga mereka yang dulu menjauhinya pun kini mulai tergoda. Tidak peduli meski harus menjilat ludah sendiri, yang penting maknyuss.

Walaupun Jokowi memilih Kiai Ma'ruf Amin sebagai wakilnya, tetap saja umat saat ini tidak bisa dibohongi dengan jargon "Presiden pilihan ulama." Yang ada justru Ulama pilihan Presiden. Sebab, meskipun ulama, mereka tidak pernah mengoreksi penguasa.

Ketika Presiden mencabut subsidi, menaikkan harga bbm, tarif dasar listrik serta yang lainnya, dan kemudian rakyat mengkritiknya, justru para ulama itu membela Presiden, dan malah menyalahkan rakyatnya. Jelas saja sang Presiden begitu sayang kepada mereka, karena merasa selalu dibela.

Jelas, ini membuktikan bahwa terpilihnya Kiai Ma'ruf Amin sebagai Wapres Jokowi bukan berarti dia menjadi Presiden pilihan ulama, yang ada adalah Ulama pilihan Presiden. Kalo saja Kiai Ma'ruf Amin seperti Habib Rizieq, Ustadz Ismail Yusanto dan yang lainnya yang selalu tegas mengoreksi penguasa, niscaya mereka tidak akan pernah dijadikan sebagai calon wakilnya. Boro-boro dijadikan wakil, dikriminalisasi justru iya.

Jadi muslim itu yang cerdas dikitlah, jangan mudah terpengaruh dengan pencitraan. Buat apa punya isi kepala kalo tidak dipake. Biarin aja mereka yang jadi pendukung fanatik mah, maklumin aja, emang cuma segitu sumbu mereka.

Salam sejahtera untuk semuanya

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 11 Agustus 2018

Tidak ada komentar