Breaking News

Irkham Fahmi al-Anjatani : Andai Kekuasaan Dunia semata yang kami Cari

ANDAI ITU YANG KAMI CARI
________
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Aneh rasanya diri ini mendengar celotehan orang-orang yang anti dengan perjuangan penegakkan syariat Islam. Mereka menuduh para aktifis pergerakkan Islam itu sebagai orang-orang yang haus dengan kekuasaan dan serakah akan jabatan. Para pengemban dakwah dituduhnya sebagai para pengejar kenikmatan dunia.

Para penjegal tegaknya Hukum Islam seperti tidak pernah ada hentinya menyuarakan hal itu. Dari mulai yang bertitel dan bergelar hingga mereka yang berada di kampung-kampung pedalaman, semuanya kompak menyuarakan syubhat yang sama; "mereka yang memperjuangkan Syariah dan Khilafah itu orang-orang yang haus kekuasaan." Seperti itulah suaranya.

Tidakkah mereka berpikir, jika memang kenikmatan dunia yang kami cari, niscaya kami tidak akan mau berpanas perih dalam setiap perjuangan ini, niscaya kami tidak akan memilih jalan yang penuh onak dan duri.

Jika kenikmatan dunia yang kami cari, buat apa kami harus mengambil resiko dengan terus menerus mengkritik kebijakan-kebijakan ngawur para politisi yang tidak punya hati. Bisa dibedil kepala ini, atau minimalnya dijebloskan di balik jeruji besi.

Seandainya kenikmatan dunia yang kami cari, pasti kami akan memilih tidur di siang hari daripada harus berhadap-hadapan dengan Polisi. Andai kenikmatan dunia yang kami kejar, niscaya kami lebih memilih berdiam diri di dalam kamar daripada harus berpanas-panasan sambil meneriakkan Takbir, 'Allaahu Akbar'.

Bukan itu yang kami cari, bung. Silahkan anda pikir! Jika yang dikejar oleh kami adalah kursi dan jabatan, niscaya kami akan masuk ke arena parlemen, dan mengajak semua simpatisan kami yang jumlahnya sudah jutaan orang agar mendukung kami di setiap musim pemilihan, guna merebut satu atau dua kursi di senayan. Lumayan.
Tetapi itu tidak kami lakukan.

Jika harta benda dan jabatan yang kami kejar mati-matian, mudah saja bagi kami untuk mendapatkan. Cukup kami menjadi seperti mereka, berbalik arah menjadi pembela penguasa. Dijamin nasib kami seperti Ngabalin, banyak dielu-elukan dan langsung mendapat jatah jabatan.

Mudah kan? Apalagi kami yang sudah mempunyai puluhan juta simpatisan. Pasti bakal gempar jika tiba-tiba kami berubah haluan. Cukong-cukong yang uangnya segudang bakal berbondong-bondong mengirimkan tunjangan periuk dan uang makan.

Jika harta benda yang menjadi tujuan perjuangan, niscaya Habib Rizieq akan menerima tawaran uang satu trilyun dari para pengusaha hitam, dengan syarat beliau harus berhenti memperjuangkan tegaknya syariat Islam.

Jauh sebelum itu, Ustadz Ismail Yusanto (Jubir HTI) pun mendapat tawaran puluhan juta dollar dari perusahaan asing yang berada di pulau seberang, dengan syarat beliau harus berhenti menyuarakan aspirasi umat terkait Kekhilafahan di dunia Islam. Karena dengan apa yang dilakukan oleh ustadz Ismail itu eksistensi mereka merasa terancam. Dan ustadz Ismail tidak mau menerima tawaran tersebut, beliau lebih memilih untuk melanjutkan perjuangan.

Jika dikatakan bahwa kami adalah orang-orang yang haus terhadap kekuasaan, ya, memang benar kami haus dengan kekuasaan, tetapi bukan untuk mendapatkan uang, melainkan untuk menerapkan aturan-aturan Islam, karena hanya dengan ditegakkannya syariat Islam'lah masa depan negeri ini akan terselamatkan.

Itulah yang menjadi tujuan perjuangan. Bagi kami, lebih baik hidup miskin pas-pasan daripada kaya raya tetapi harus menggadaikan KeIslaman. Lebih baik tidak mempunyai kekuasaan daripada mempunyai kekuasaan tetapi tidak digunakan untuk menegakkan aturan-aturan Islam.

'Isy kariiman aw Mut syahiidan..

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 4 Agustus 2018

Tidak ada komentar