Breaking News

POLTISASI ULAMA

POLITISASI ULAMA


Oleh: Handholah

Bila para politisi terlihat lebih alim dan shalih, serta makin dekat dengan rakyat dan ulama, bahkan suka keluar-masuk pesantren, berarti musim pilpres/pilkada telah tiba…. Inilah politik pencitraan!

Bagaimana bila ulamanya, bahkan ketua MUI sendiri, yang ikut menjadi cawapres? Apa salahnya? Jawabannya tergantung jenis politiknya, politik sekuler atau politik Islam (?)

*Politik Sekuler*

Masyarakat menganggap, bahwa politik hanyalah persoalan perebutan kekuasaan. Kekuasaan itu diperoleh melalui pemilu. Maka, pasangan capres-cawapres harus bisa mendulang suara terbanyak dalam pemilu.

Dari situlah, ketokohan ulama sangat penting untuk memenang pemilu. Karena ulama memiliki (pengaruh) massa sangat besar. Apalagi dia itu ulama, pimpinan ormas besar dan ketua MUI lagi! Maka, diharapkan bakal mendulang mayoritas suara umat Islam Indonesia.

Hanya saja, sebagaimana kekhawatiran Aa Gym, *ulama hanya menjadi tukang dorong mobil mogok saja*. Ulama hanya berperan sebagai _vote getter_. Setelah mobil berjalan, ulama ditinggalkan. Inilah fakta politik sekuler! Melecehkan peran ulama!

Keulamaannya, yaitu ilmu (agama) dan keshalihannya tidak dipergunakan dalam kepemimpinan negara. Karena apa? Dalam politik sekuler, agama (akidah dan syariahnya) tidak boleh mencampuri atau dipergunakan dalam kepemimpinan pemerintahan. Inilah masalahnya….

*Politik Islam*

Berbeda dengan politik Islam. Justru agamalah yang mengatur kepemimpinan pemerintahan dalam mengurusi rakyatnya. Sebagaimana maksud politik _(siyasah)_ menurut syara’ adalah _ri’ayah asy-syu’un al-ummah dakhiliyyan wa kharijiyan_ (mengatur urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri) [Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, _Muqaddimah ad-Dustur_].

Pengertian politik Islam tersebut diambil dari beberapa hadis. Di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

_“Adalah Bani Israel dahulu yang mengatur urusan mereka adalah nabi-nabi *(tasusuhum al-anbiya’)*. Bila wafat seorang Nabi, maka diganti dengan Nabi yang berikutnya. Sesungguhnya tidak akan ada lagi Nabi sesudahku tetapi akan ada Khulafa’ ….”_

Dengan demikian, bila seorang pemimpin itu dari kalangan ulama, tentu lebih baik. Dia paham agama dan cakap mengurus rakyatnya dengan hukum-hukum Islam , serta shalih (taat dan takut kepada Allah).

Bahkan, “kecerdasan politik Islam” itu juga harus dimiliki oleh rakyat pada umumnya. Karena, rakyat yang menjadi pengontrol terhadap arah dan kebijakan kepala negara, sebagai fungsi _amar makruf nahi munkar!_

Jadi, seorang pemimpim itu harus cerdas politik Islam. Yaitu, paham dan cakap mengurus rakyatnya dengan syariah Islam. Dia juga harus shalih dan komit menjalankannya. Karena, dialah yang akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah atas kepemimpinannya, apakah sesuai syariah Islam atau menyimpang!

#UlamaBelaIslam
#UlamaGarisLlurus
#KyaiCintaIslam
#KyaiProSyariah

Tidak ada komentar