Breaking News

Hanif Kristianto : Menunggingi HTI Dan Khilafah di PILPREs 2019

Hanif Kristianto: Menunggingi HTI Dan Khilafah Di Pilpres 2019
_Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)_

_Suaramerdeka.id_ – Respon #2019GantiPresiden diikuti dengan pengungkitan kembali dua isu: HTI dan Khilafah. Tampaknya, dua isu menjadi seksi untuk menyerang kubu yang diduga ditunggangi HTI dengan khilafahnya. Sikap menuduh bisa terkategori dengan menunggingi HTI sebagai kelompok dakwah Islam dan khilafah yang ajaran Islam. Menunggingi bermakna kurang sopan yang menunjukan sikap membungkuk dengan kepala ke bawah dan pantat terangkat ke atas (Kamus Bahasa Indonesia). Tak eloklah dalam kedewasan politik sikap menunggingi HTI dan Khilafah.

Ada beberapa faktor HTI dan Khilafah ditunggingi dalam konteks pilpres 2019:

*Pertama*, dalam perebutan simpati terkait opini publik, isu Khilafah yang dianggap sebagai ancaman bagi Indonesia menjadi daya tarik untuk mengokohkan calon petahana. Hal ini dikarenakan petahana tetap komitmen dengan Pancasila, NKRI, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika. Sementara itu, HTI dan Khilafah dikategorikan dalam kelompok anti empat pilar. Sampai-sampai Perppu Ormas No.2 Tahun 2017 menyasar HTI dengan pencabutan SK BHP-nya.

*Kedua*, demokrasi sebagai dasar politik tidak ingin ada ideologi yang merubah sistemnya. Terdapatnya politisi yang merasa negarawan dan miskin konsep pemahaman politik mengakibatkan kekacauan dalam memahami haluan negara. Selama ini, politisi gagal mendefinisikan ancaman sejati bagi Indonesia. Apakah benar carut marut negeri ini karena HTI dan Khilafah? Atau sebab lainnya, semisal kapitalisme dan liberalisme? Hal itulah yang perlu diperjelas kembali.

*Ketiga*, ada indikasi dua isu digunakan untuk menjatuhkan lawan politik oposisi. Hal ini tampak nyata dalam pembelaan membabi buta pada calon yang dijagokan menang. Padahal secara kasat mata dan seksama, kubu oposisi menolak mentah-mentah dan tak ditunggangi siapa pun dalam gerakan #2019GantiPresiden. Kondisi ini merupakan lanjutan dari Pilkada Jakarta 2017 yang belum tuntas dan kurang puas. Karenanya, harus ada sasaran antara meski sasaran itu salah.

*Keempat*, pikiran sekular dan liberal yang merasuki tubuh politik demokrasi. Selama ini sekular dan liberal yang mengklaim paling demokratis tidak bisa menerima gagasan ultramodern khilafah. Entah apa yang dicari, kekuasaan atau kemaslahatan rakyat?

*Kelima*, ketiadaan kedewasaan berpolitik dalam artian childish politics (politik kekanak-kanaan). Demokrasi telah menunjukan wajahnya bahwa syahwat kuasa dinomorsatukan sebelum mengurusi rakyatnya. Maka, kehebohan dan kegusaran sudah dimunculkan di awal sebelum pemilihan berlangsung.

Upaya menunggingi HTI dan Khilafah di Pilpres 2019 bukanlah tindakan bijak. Cobalah smart dalam politik dengan mengetengahkan kesantunan dan kewibawaan calon pemimpin. Jika saja dalam masa kampanye yang dipertontonkan akrobat dan sirkus politik, rakyat pun terkekeh-kekeh melihat itu. Rakyat akhirnya paham keinginan manusia yang ingin berkuasa. Rakyat bukanlah patung yang diam. Mereka bisa membedakan mana emas dan mana loyang. Sebab itu, rakyat akan terus bergerak sebagai pemilik sejati kekuasaan. Tidak mustahil keinginan rakyat untuk mendapat pemimpin baru bagi Indonesia akan terwujud.

Kedewasaan politik tidak ditandai dengan membebek pada lingkar kekuasaan dan merasa aman. Bukan pula dipertontonkan dengan otot kawat balung wesi. Kedewasaan itu ditandai dengan cara fikir dan tindakan untuk mengurusi semua rakyat Indonesia. Bukankah dalam pelajaran kewarganegaraan dijelaskan bahwa kepentingan rakyat harus didahulukan daripada kepentingan pribadi dan golongan?

Isu HTI dan Khilafah ke depan tak hanya dibawa dalam pilpres, tapi juga di setiap hajatan pemilu sebagai monsterisasi dan mengambinghitamkan ide-ide Islam. Karena itu, upaya monsterisasi itu harus dicegah dan dihilangkan. Jangan sampai ada fitnah dan anak bangsa yang terdzalimi oleh saudaranya sendiri. Penggunaan dua isu merupakan politisasi agama dengan menuding orang lain bersalah. Menuduh dan menunggingi HTI dengan khilafahnya sama saja menggali kubur kekalahan sebelum mulai permainan.

https://suaramerdeka.id/1254/hanif-kristianto-menunggingi-hti-dan-khilafah-di-pilpres-2019/

Tidak ada komentar