Breaking News

KEKURANGAN JKW CUMA SATU

KEKURANGAN JKW CUMA SATU

Oleh Handholah


Kemarin ada meeting dgn seorang konsultan di sebuah mall. Setelah membahas urusan pekerjaan, tiba saatnya makan siang.

"Menurut Bapak, perpolitikan Indonesia sekarang bgm pak?" rupanya dia mengajak bicara politik saat makan siang.

Saya hanya tersenyum-senyum. Lagi malas bicara politik. Karena perbedaan pandangan politik suka terbawa emosi, bisa merusak hubungan pribadi. Termasuk bisa merusak kelezatan makan siang, hehe....

"Menurut saya, kekurangan JKW cuma satu. Yaitu, tidak mengkomunikasikan strategi kebijakan ekonominya. Banyak anggaran tersedot untuk membangun infrastruktur, itu kan bagus! Bla bla bla bla...." jelasnya.

Ah, benar feelingku. Dia seorang simpatisan. Entah karena punya pemikiran yang sama (dg rezim), atau sangat mungkin lagi dapat proyeknya (krn yg jelas dia lagi garap proyek BI).

Di tengah-tengah dia menjelaskan bgm strategi rezim, kenaikan dollar krn faktor eksternal, dsb, maka saya pun cari celah untuk nimbrung bicara yg selaras-harmonis dengannya.

"Menurut saya, cuma satu itu kekurangan JKW." Dia menutup penjelesannya dg menyeruput kuah sop buntut. Hemmnn... Sedap benar!

"Sama satu lagi pak!" Saya pun akhirnya "cuma" menambahi pendapatnya, "Yaitu, kenapa janji-janjinya JKW tidak ada yang ditepati?!"

"Nah itu! Kenapa janji-janji itu tidak ditepati, juga harus disampaikan kepada rakyat, kenapa bla bla bla....," tangkisnya.

"Satu lagi pak! Kenapa kalau berbicara di depan umum JKW seperti bukan sebagai presiden. Tapi sebagai orang (partai) yg bicara dengan pendukung atau kelompoknya saja. Sehingga tidak menyatukan semua elemen masyarakat, tidak mengayomi." tambah saya.

"Iya betul. Itu juga teknik berkomunikasi yg juga harus diperbaiki" tangkisnya lagi.

"Satu lagi pak! Orang-orang di sekitar JKW atau entah JKW sendiri tidak mengakomodir aspirasi umat Islam, seperti pernyataannya tidak membutuhkan suara umat Islam, serta tidak adil dlm memperlakukan umat Islam, kelompok Islam dan ulamanya. Bahkan persekusi ustadz dan penghadangan pangajiannya sering terjadi, dan terkesan dibiarkan atau --kalau tidak boleh dikatakan-- didukung oleh rezim!" tambah saya.

"Itu juga faktor komunikasi pihak JKW yg harus diperbaiki. Tapi, sering juga itu dipolitisasi, sih pak!" tangkisnya.

"Tapi ingat, Pak.... Islam itu tidak bisa dipisahkan dg politik. Politik adalah bagian dari Islam, yaitu politik Islam. Jadi, rakyat Indonesia yg mayoritas umat Islam tidak bisa disamakan dg rakyat Singapura atau Amerika yg jelas-jelas sekuler pak..... Urusan negara juga menjadi urusan agama," jelas saya.

"Iya ya, saya setuju itu!" jawabnya.

"Dan ingat ya pak.... JKW dulu kan segaris dg Ahok. Kayaknya rakyat atau umat Islam masih menilai seperti itu, tidak berubah, bahkan luka dan rasa sakitnya masih ada dan sangat terasa. Apalagi adanya persekusi dan ketidakadilan lainnya," jelas saya lagi.

Sampai di sini dia diam. Menyibukkan diri dengan menikmati hidangan sop buntutnya.

"Silakan tambah lagi pak, sopnya!" Kata saya. Memang saya lagi menjamu dia.

"Udah pak, cukup, cukup!" katanya.

Hahahaha.... Cukupnya dua kali. Pertama, cukup sopnya. Kedua, cukup diskusinya. Gitu kali ya.....

Harusnya saya ngomong gini ya: "Di sini nyamuknya cuma satu, tapi temannya banyak, pak!" hehe...

Tidak ada komentar