Breaking News

Makna Menjadikan Tuhan Selain Allah

MAKNA MENJADIKAN TUHAN-TUHAN SELAIN ALLAH SWT

Menetapkan hukum adalah otoritas milik Allah Swt secara mutlak. Dialah yang menetapkan yang halal dan yang haram. Ketika telah ditetapkan-Nya, maka semua manusia wajib menaatinya.

Tidak boleh ada yang membantah dan melanggarnya. Apalagi, mengubah dan menggantinya. Semua itu merupakan perbuatan terlarang dan diancam siksa. Terlebih tindakan terakhir, yakni mengubah dan mengganti syariah-Nya, seolah dia lebih berhak dalam menetapkan hukum.

Al-Quran memberikan celaan yang keras kepada pelakunya. Bahkan, mereka disebut teklah menjadikan dirinya sebagai tuhan-tuhan selain Allah Swt. Sementara orang-orang yang lebih menaati mereka daripada Allah Swt disebut telah melakukan penyembahan kepada mereka. Allah Swt berfirman:
 اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan orang-orang alim  dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (QS al-Taubah [9]: 31).

Apa makna: Menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah Swt?

Rasulullah saw telah menerangkan kepada kita tentang hal itu dengan sangat gamblang dan jelas. Imam Ibnu Katsir menceritakan, suatu saat Ad bin Hatim menemui Rasulullah saw. Beliau pun membca ayat tersebut. Mendengar ayat tersebut, Adi bin Hatim membantahnya dengan berkata:
إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوهُمْ
Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya.
Rasulullah saw  menjawabnya:
 "بَلَى، إِنَّهُمْ حَرَّمُوا عَلَيْهِمُ الْحَلَالَ، وَأَحَلُّوا لَهُمُ الْحَرَامَ، فَاتَّبَعُوهُمْ، فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ"
Benar, sesungguhnya mereka mengharamkan hal yang halal bagi para pengikutnya dan menghalalkan hal yang haram bagi mereka, lalu mereka mengikutinya; yang demikian itulah ibadah mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib mereka.

Jadi, para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani itu disebut telah dijadikan sebagai tuhan-tuhan selain Allah Swt karena mereka telah berani mengubah ketentuan ALalh Swt dalam halal dan haram. Seolah, mereka memiliki otoritas tentang itu, bahkan mengalahkan Allah Swt.

Sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani dinyatakan telah menjadikan mereka sebagai tuhan dan menyembah mereka karena mereka lebih menaati mereka dibandingkan dengan Allah Swt. Ketika sesuatu telah dihalalkan Allah, lalu diharamkan pendeta dan rahib mereka, mereka lebih mengikuti pendeta-pendeta mereka. Demikian juga sebaliknya. Itulah bentuk penyembahan mereka.

Tentu saja, ketentuan itu tidak hanya berlaku kepada para pendeta dan rahib Yahudi dan Nasrani. Siapa pun yang mengangkat dirinya memiliki otoritas menetapkan halal dan haram, maka mereka telah mentabiskan diri mereka sebagai tuhan.

Demikian pula orang-orang yang mengakui mereka memiliki otoritas tersebut, yakni menetapkan halal dan haram, mereka dinyatakan telah menyembah kepada mereka. Maka, berhati-hatilah soal ini.

Simak hingga tuntas dalam penjelasan ringkas di link berikut:
https://www.youtube.com/watch?time_continue=6&v=5iVaVEK97eo

Tidak ada komentar